Sabtu, 05 Mei 2012

SMK ROTA – Bayat ( Klaten )

Sesuai dengan Visi SMK Rota yaitu menjadi SMK yang bertaraf Internasional dan center of excellence dalam bidang batik dan keramik di Indonesia ,
yang menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di pasar internasional. Berdomisili di jalan raya Bayat- Cawas, Jawa tengah Kabupaten Klaten.
Atas prakarsa mengubah anggapan masyarakat bahwa membatik itu merupakan pekerjaan buruh miskin dilakukan Lily Kasoem dengan mendirikan sekolah. Melalui program pendidikan yang dirancangnya SMK di Bayat, Klaten Jateng mampu mencetak entrepreneur muda mengembangkan usaha batik.
Penghasil batik tulis Bayat telah tersohor sejak zaman dahulu. Para raja dan bangsawan di Jogyakarta dan Solo memakai hasil batik yang dihasilkan warga desa Bayat. Di tempat itu membatik menjadi membudaya disetiap keluarga. Semula ibu-ibu pembatik tradisional masih menganggap batik itu merupakan pekerjaan buruh. Walaupun membatik dilakukan menahun selama hidup, namun warganya masih tetap miskin.
Sebab itu para ibu di desa itu tidak ingin anak-anaknya sebagai penerus keluarga melakoni profesi sama dengan orang tuanya. “Tidak boleh dibiarkan berlarut-larut seperti itu. Dengan dilatih dan mengikuti sekolah formal khusus, anak-anak muda di Bayat bisa menjadi pengusaha batik,” kata Lily.
Pola tradisional yang secara turun temurun dilakukan warga tidak mendorong usaha mereka. Tekad itulah yang mendorong Lily untuk mengembangkan SMKN 1 Rota Bayat. Melalui Titian Foundation yang didirikannya 2006 lalu itu, anak muda di Bayat dibimbing mengembangkan usaha batik. Menjadi entrepreneur muda yang bisa menggeliatkan usaha kecil menengah dari sektor batik. “Karena manual satu minggu cuma selembar kain batik yang dihasilkan”.
Selain pemberdayaan Batik di Bayat, Lokasi pembuatan gerabah klasik dan modern, unik dan artistik di daerah Bayat (salah satu kecamatan di kota Klaten) yaitu di wilayah “Pagar Jurang” tepatnya desa Ngaren, Paseban, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Tekhnologi yang digunakan terapan bantuan dari negara Jepang, yaitu menggunakan mesin dengan sistem putaran miring. Jaman dahulu para pengrajin gerabah menggunakan sistem manual dengan putaran tegak lurus tetapi setelah mendapatkan arahan dari para Konsultan dan Petugas Bina Kerajinan Keramik Bayat dari Pemerintah Daerah Klaten maka sekarang hasil produksinya dapat ditingkatkan,
Kwalitasnya pun semakin baik. Tehnik pewarnaan keramik (ceramic painting) nya sudah semakin moderen dan telah memenuhi kwalitas ekspor. Diantara perusahaan gerabah yang berdomisili di Bayat adalah “Pandanaran Ceramics” di sini berbagai bentuk, corak dan waran gerabah diproduksi dan sudah siap dapat dipergunakan.
Dosen Universitas Kyoto Seika, Prof Chitaru Kawasaki, mengatakan, kedatangan para mahasiswanya ke Bayat adalah karena pembuatan gerabah keramik dengan teknik putaran miring tidak dilakukan pengrajin gerabah di Jepang. “Teknik putaran miring termasuk yang paling sulit untuk dilakukan. Para pengrajin kebanyakan menggunakan teknik putaran lurus. Dengan belajar langsung ke desa ini, diharapkan mahasiswa bisa menerapkannya ketika kembali ke Jepang nanti,” ujarnya saat ditemui Espos di Pusat Pelestarian Pembuatan Keramik Putaran Miring Bayat.
Kegiatan STUDI BANDING SMK ROTA BAYAT dari STISI Telkom, berhasil mengunjungi Pusat Pelestarian Pembuatan Keramik Putaran Miring Bayat dengan menemui langsung Prof Chitaru Kawasaki. Selama kurun waktu hampir 6 tahun ( 2006-2012 ), Prof. Chitaru Kawasaki tidak henti-hentinya mengamalkan ilmunya di Desa Bayat ini. Dengan prinsip ” TUNGKUMU, SEMANGATMU, MASA DEPANMU “, Kawasaki secara intens memberikan pengetahuan mengenai dunia keramik. Keinginan beliau untuk menuntaskan mata rantai tengkulak, yang membeli hasil keramik desa setempat dengan harga murah.
Para wanita rumah tangga di Desa Bayat, kini tinggal memetik hasilnya. Produksi keramik sebagai alat kebutuhan rumah tangga dapat mereka penuhi. Selain mendapatkan pengetahuan mengenai Desain keramik, Keramik Fungsional dan Keramik estetis, kini keramik merupakan bagian dari kehidupan Desa Bayat selain Batik.
Sedikit gambaran wanita Desa Bayat Pengrajin keramik, dapat anda lihat di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar